Warta Indonesia – Aceh Utara, Oknum M merupakan eks tenaga honorer yang telah dipecat sebagai guru pada salah satu SMP di Aceh Utara  kerap mengaku- ngaku sebagai wartawan dan diduga sering melakukan intimidasi terhadap kepala sekolah.

Sosok M kini telah dilaporkan sejumlah kepala sekolah ke Polres Aceh Utara pada Senin, 14 Februari 2022 lalu.

Laporan tersebut dilakukan oleh sejumlah kepala sekolah karena menduga oknum tersebut kerap menyebarkan berita bohong dengan menggunakan media social dan WhatsApp dengan meng- intimidasi para kepala sekolah.

Berdasar Laporan Polisi Nomor STTLP/20/II/2022/SPKT/POLRES ACEH UTARA/ POLDA ACEH, “MH” dilaporkan oleh Ruslan menyangkut dengan Undang – undang tindak pidana Informasi dan Transaksi Electronik (ITE) sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 27 ayat 3.

“Saya di-intimidasi melalui Whatsapp, di tuduh korupsi oleh “MH”, bahkan saya diancam akan di laporkan kepada Kapolda terkait beberapa masalah yang dituduhkan kepada saya. Padahal apa yang dituduhkan kepada saya semua tidak terbukti dan tidak pernah saya lakukan, dia “MH” hampir tiap hari menteror saya melalui WA, sehingga saya merasa sangat terganggu,” sebut Ruslan

Tambah Ruslan, “MH” sebelumnya bekerja sebagai guru honor di SMP I Seunuddon, belakangan “MH” mengaku dirinya sebagai wartawan yang bekerja di salah satu media online. Disamping “MH” kerap mengaku Wartawan, “MH” juga mengaku dirinya sebagai pengamat pendidikan di Aceh.

“MH” tak segan – segan mengancam sejumlah kepala sekolah dengan menayangkan berita opini dan narasi pribadinya, “Sehingga terpaksa saya laporkan masalah ini ke Mapolres Aceh Utara,” kata Ruslan.

Terakhir, sejumlah wartawan di Aceh Utara juga telah menerima kiriman alat bukti chat WhatsApp yang dikirim salah seorang nara sumber, berisi pesan bernada ancaman jika persoalan dugaan korupsi yang ada di salah satu sekolah tidak diselesaikan dinas “MH” akan kembali menerbitkan berita berikutnya.

Baca Juga  PT PIM Menghadiri Acara PPWI Lhokseumawe Gelar FGD dengan Tema Mengawal Bantuan Subsidi Pemerintah

Kapolres Aceh Utara, AKBP M. Riza Faisal, S.I.K, M.M saat dikonfirmasi wartawan Via WhatsApp membenarkan telah masuk laporan Polisi (LP) terkait kasus guru honorer kerap melakukan intimidasi dan ancaman kepada para kepala sekolah di Aceh Utara.

“Benar sudah masuk bang, sedang ditindak lanjuti oleh Satreskrim,” Sebut AKBP Riza Faisal, Jumat (18/02/22).

Sementara Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Utara – Lhokseumawe, Sayuti Achmad saat dikonfirmasi wartawan Jum`at (18/02/22) menyebutkan, pihak PWI telah lama menerima laporan dari masyarakat tentang sepak terjang “MH” kerap membawa – bawa nama wartawan di Aceh Utara.

Surat Laporan
Surat Laporan

Kata Sayuti, sosok “MH” yang disebut-sebut melakukan praktek dengan sasaran sekolah-sekolah terpencil di Aceh Utara, dengan tegas Sayuti Achmad menyebutkan, dirinya sudah 10 tahun jadi ketua Organisasi pers tertua di Indonesia itu, tidak pernah mengenal sosok “MH”.

Dalam laporan masyarakat ke PWI, sebut Sayuti bahwa “MH” sering meng-upload berita-berita disalah satu media, namun saat di telusuri, media tersebut tidak terdaftar di Dewan Pers, tidak hanya itu “MH” juga tidak terdaftar di Organisasi Pers yang merupakan organisasi Konstituen Dewan Pers, merujuk pada aturan Dewan Pers.

“PWI tidak bisa mengambil sikap terhadap tindakan Oknum “MH”, karena “MH” bukan anggota PWI. Namun pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Organisasi Pers lainnya yang ada di Aceh Utara Lhokseumawe, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), semua mengaku oknum tersebut tidak terdaftar sebagai anggotanya,” kata Sayuti  juga menjabat sebagai Koorwil- I PWI Provinsi Aceh.

Dalam hal ini PWI meng-apresiasi masyarakat yang berani membuat laporan kepada Organisasi Pers dan pihak kepolisian bila ada oknum mengaku wartawan yang bertindak melampaui kewenanganya sebagai wartawan.

Baca Juga  Ketua Persit KCK Cabang XX Dim 0103, Menyerahkan Bantuan Sembako dari Ketua Persit KCK Daerah Iskandar Muda kepada Korban Banjir

“Wartawan jangan berlagak seperti penyidik, wartawan yang benar adalah bekerja dibawah aturan dan kode etik jurnalistik, untuk itu PWI mengharapkan polisi segara menindak lanjuti laporan masyarakat, karena tindakan oknum “MH” itu sudah mencatut nama wartawan dan merusak citra wartawan di Aceh Utara,” pungkasnya.(Fadly P.B)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here