Home Medan Pompeii Kota Maksiat Yang Diazab Tuhan, Tolak LGBT di Indonesia

Pompeii Kota Maksiat Yang Diazab Tuhan, Tolak LGBT di Indonesia

0
9
Kota Pompeii adalah pusat kemaksiatan dan kemungkaran yang dipenuhi perzinahan pelacuran dan kegiatan homo seksual maupun hetero.

Medan-Wartaindonesiaonline.com. Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia.
Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M.
Cerita tentang Pompeii begitu melegenda, kota yang subur tiba-tiba luluh lantak oleh letusan maha dahsyat saat penduduknya sedang berpesta pora.
Tidak ada yang selamat, kota dan semua penduduknya terkubur abu vulkanik selama ribuan tahun.

Sejarah Kota Pompeii Yang Di Azab Tuhan.

Pada tahun 62 M, gempa bumi hebat sempat merusak kota Pompeii, setelah gempa kota ini dibangun lebih megah lagi.
Selang 10 tahun tepatnya tahun 79 M, gunung Vesuvius mengalami erupsi hebat kembali menghancurkan kota Pompeii lebih parah lagi, bahkan telah menghilangkan keberadaanya dari peta-peta dunia hanya dalam satu malam saja.

Debu vulkanik gunung Vesuvius mengubur kota pompeii selama 1600 tahun, sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh arkeolog secara tidak sengaja.
Tidak satupun penduduknya yang selamat, semua mati mengeras menjadi batu dibawah timbunan lava dan debu.

Pemusnahan Kota Pompeii Dari Muka Bumi Bukan Tanpa Alasan.

Kota Pompeii adalah pusat kemaksiatan dan kemungkaran yang dipenuhi oleh lokasi perzinahan dan pelacuran, kegiatan homo seksual maupun hetero subur di kota ini.
Setelah 1600 tahun berlalu pada 1748 ditemukannya kota ini kembali.
Atas kuasa Allah, semua bangunan utuh tertimbun, banyak jasad manusia ditemukan dalam kondisi terawetkan dengan berbagai pose yang seronok.
Penghancuran kota Pompeii sebagai azab dari Tuhan mirip dengan kisah kehancuran kaum Nabi Luth.

Trend Dunia Internasional.

Beberapa hari terakhir, publik tersadarkan kembali akan upaya yang dilakukan sebagian pihak untuk mensosialisasikan dan menormalisasi perilaku LGBT.
Sebuah penyimpangan yang ditolak mayoritas masyarakat Indonesia.
Beberapa publikasi di media sosial diunggah video maupun wawancara tentang kehidupan LGBT yang saat ini tengah di jadikan trend dunia internasional.

Baca Juga  Hari HAM POLRI Adakan Lomba Orasi Merebutkan Piala KAPOLRI, DPP LIPPI : POLRI Presisi Sangat Mengormati Aspirasi Masyarakat

Sejalan dengan upaya Gay Politics, kekuatan lobby politik tingkat dunia yang mendukung dilegalkannya pernikahan sejenis di berbagai negara.
Pada 1 Juli 2022 Swiss akan mengesahkan pernikahan sejenis, setelah 30 negara-negara lainnya yang mendahuluinnya.
Menurut Pew Research Center, paling tidak ada 30 negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, baik secara nasional maupun wilayahnya, Belanda (2001), Belgia (2003), Kanada dan Spanyol (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia (2008),Meksiko dan Swedia (2009),Portugal, Argentina dan Islandia 2010), Denmark, Wales, Prancis, Brasil, Selandia Baru dan Uruguay (2013), Skotlandia dan Luxemburg (2014), Finlandia, Grenland, Irlandia dan Amerika Serikat (2015), Columbia (2016), Inggris, Jerman, Australia dan Malta (2017), Austria, Ekuador dan Taiwan (2019) dari buletin bina keluarga sakinah edisi 3 syawal 1443 H.

Menyikapi fenomena diatas penulis berdiskusi dengan H. Salman Alfarisi, LC, MA, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Partai Keadilan Sejahtera Sumatera Utara, Rabu pagi 24 syawal 1443H /25 mei 2022 M.
Berikut tanggapan beliau,
Terkait maraknya perilaku penyimpangan seksual terutama perilaku transgender sudah sangat mengkhawatirkan, bahkan mulai adanya sikap simpatik yang ditunjukkan berbagai pihak ujar Salman.

Lebih mengkhawatirkan lagi sikap simpatik terhadap penyimpangan ini mendapat dukungan dan mempunyai kekuatan di dalam dan di luar negeri.
Ada kekuatan pihak internasional menyebar di Indonesia untuk
merusak, dan menghancurkan bangsa Indonesia dan generasi mudanya.

Menolak LGBT berarti kita, sebagai anggota masyarakat bersinergi Dalam menghadapi permasalahan Bersama bangsa ini.
Kita harus aktif mendukung berbagai upaya mencegah dan menghadapi serangan yang akan merusak generasi muda, merusak tatanan ketahanan keluarga, dan terlebih merusak kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Pancasila dan UUD Negara kita.
Lanjut Salman, perilaku penyimpangan ini sangat bertentangan dengan norma-norma Agama.
Hendaknya seluruh perilaku kehidupan bangsa mengacu kepada pandangan agama bukan pandangan asing.
Bahwa propaganda LGBT adalah bentuk penjajahan gaya baru di NKRI yang kita cintai,
mari kita rawat dan jaga negeri ini, “pungkas Salman Al Farisi.

  • Penulis : Abdul Aziz, ST
  • Pemerhati sosial dan lingkungan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here