Kisah Mu’adz bin Jabal, Sahabat yang Pernah Berboncengan dengan Rasulullah

Pengetahuan592 Dilihat

Kisah Mu’adz bin Jabal – Kisah ini menceritakan tentang seorang sahabat Nabi ﷺ yang sangat luar biasa. Ia bahkan bisa diibaratkan sepasang mata yang senantiasa berdampingan dengan Nabi ﷺ ketika saat itu Nabi ﷺ hijrah ke Madinah. Ia belajar banyak ilmu yang bersumber langsung dari Rasulullah ﷺ , bahkan Ia mampu mendalami pengenalan masalah halal dan haram serta syariat Islam hingga menjadi jadi orang yang paling mengetahui tentang Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dari kalangan para Sahabat nabi. Ia adalah sahabat nabi yang bernama Mu’adz bin Jabal. Bagaimana kisahnya ?

Masuk Islamnya Mu’adz bin Jabal

Mu’adz bin Jabal merupakan buah yang diberkahi dari buah-buah dakwah kepada Allah ﷻ. Ia masuk Islam melalui tangan sahabat nabi, Mush’ab bin Umair yang di dalam dakwahnya selalu berpegang dengan sikap kasih sayang, hikmah dan mau’izhah hasanah.

Pada saat bai’at ‘Aqabah, Ia termasuk ke dalam tujuh puluh dua orang yang masuk Islam dengan berbai’at kepada Nabi ﷺ. Pada saat itulah, Ia mulai menggores halaman yang cemerlang lagi putih di atas kening sejarah.

Keistimewaan Mu’adz bin Jabal

Keistimewaan Mu’adz bin Jabal
Source: Freepik

Banyak hadis yang mengisahkan tentang betapa cintanya nabi ﷺ terhadap Mu’adz bin Jabal dan betapa istimewanya ia dimata Rasulullah ﷺ . Di antara kemampuan yang dimiliki oleh Mu’adz bin Jabal merupakan salah satu dari empat orang sahabat yang direkomendasikan nabi ﷺ sebagai rujukan untuk mempelajari Al-Qur’an oleh umat Islam.

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Umatku yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama Allah adalah Umar, yang paling tulus rasa malunya adalah Usman dan yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal”.

Baca Juga  Ingin Memulai Blog? Pahami 4 Cara Ini untuk Memulai Blog yang Sukses

Kedudukan yang demikian tinggi dari sosok sahabat nabi, Mu’adz bin Jabal bahkan lebih baik nan agung daripada dunia dan seisinya. Mu’adz bin Jabal begitu dekat dengan Nabi ﷺ bahkan keduanya berboncengan di atas keledai yang diberi nama ‘Ufair. Itu membuktikan bahwa Rasulullah ﷺ yang tawaduk dan tingginya posisi Mu’adz bin Jabal dimata Nabi ﷺ.

Selain itu, Rasulullah ﷺ bahkan mengatakan kepada Mu’adz bin Jabal seraya memegang tangan Mu’adz bin Jabal dan berkata: “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku mencintaimu.” Lalu beliau bersabda lagi, “Wahai Mu’adz, aku berpesan kepadamu, jangan sekali-kali engkau meninggalkan di akhir setiap shalat untuk mengucapkan doa: Allahumma A’inna ‘Ala Dzikrika Wa Syukrika Wa Husni Ibadatika.

Perpisahan Mu’adz bin Jabal dengan Nabi Muhammad ﷺ

Pada waktu itu, ketika sejumlah utusan para raja Yaman telah menghadap Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keislaman mereka dan orang dibelakang mereka, mereka memohon agar beliau mengutus seseorang yang dapat mengajarkan mereka tentang Islam. Dan Rasulullah ﷺ akhirnya memilih Mu’adz bin Jabal.

Akhirnya sampailah ketika Mu’adz bin Jabal akan pergi dengan rombongan ke Yaman, Nabi Muhammad ﷺ keluar untuk mengantar kepergian Mu’adz, dan bahwa itu adalah kesempatan terakhir mereka untuk bertemu di dunia, al-Habib pun mengucapkan kata-kata yang menyentuh.

“Wahai Mu’adz, barangkali engkau tidak akan bertemu lagi denganku setelah tahunku ini dan barangkali engkau akan melewati masjidku dan juga kuburanku.’ Maka menangislah Mu’adz karena merasa sangat cemas akan berpisah dengan Rasulullah . Beliau bersabda, Jangan menagis, wahai Mu’adz. Atau sesungguhnya tangisan itu dari syaitan?”

Meskipun kesedihan akan perpisahan tidak terelakkan tetap agama harus dijunjung tinggi. Maka, Mu’adz bin Jabal tetap berangkat melanjutkan jihad dan menjadi pemimpin agama di Yaman. Tak lama setelah perpisahan mereka, Rasulullah ﷺ pun wafat sebelum Mu’adz kembali dari Yaman. Suatu saat, Mu’adz kembali ke Madinah. Ia tidak menemukan Nabi ﷺ , sehingga ia merasakan seakan-akan nyawanya keluar dari jasadnya bahkan merasa dunia ini gelap disekitarnya dan hanya bisa mengenang kembali hari-hari yang dilaluinya dalam mendampingi Rasulullah ﷺ . Wallahu A’lam bi al Shawab.

Perpisahan itu pasti akan terasa sungguh menyedihkan namun Pertemuan setelahnya itu pasti sungguh membahagiakan.

Baca Juga  10 Agustus, Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional

Komentar