Prof.Dr.Syahrin Harahap bersama Kepala Desa Garoga, Paluta, Barani Harahap

wartaindonesiaonline.com  – Tepat pada 6 Nopember 2020 sekitar pukul 10.00 WIB, Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, memulai sejarah baru. Saat itu, Menteri Agama RI, Fakhrurrozi, menetapkan dan melantiknya menjadi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut priode 2020-2024. Pria bersahaja dan lembut ini pun harus menggeluti fase baru dalam sejarah hidupnya. Fase yang penuh tantangan, antara pikiran dan kenyataan.

 

Kebahagiaan memang terpancar di raut wajahnya. Maklum, dari segi karier, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tentu ini merupakan jenjang terrtinggi yang telah diraihnya. Namun, di balik sorot matanya yang tajam, jelas tersimpan beban berat yang harus dijalaninya untuk sebuah cita-cita dalam dunia pendidikan, yang telah puluhan tahun digelutinya.

Tengoklah. Baru sekitar 4 bulan ia menjabat Rektor UIN Sumut, ada beberapa programnya yang menyentak public. Antaranya, merevitalisasi anggaran, mendirikan Profesor Corner sebagai medium merawat warisan (legacy) para guru besar UIN Sumut, mendirikan Academic Writing Center (AWC) untuk memperkuat kualitas publikasi ilmiah civitas akademik kampus, kemudian mengoperasionalkan museum Alquran dan Peradaban Islam UIN Sumut. Dan, banyak lagi programnya yang patut diacungkan jempol.

 

Sebagai penggagas Wahdah al’ulum, sebuah metodologi keilmuan, Prof. Syahrin memang banyak berkutat pada pengembangan keilmuan dan peradaban. Moderasi beragama misalnya. Prof. Syahrin terus mensosialisasikannya melalui berbagai seminar dan ceramah, sehingga moderasi beragama yang digagasnya itu kini menjadi pemikiran yang berkembang di Sumatera Utara dan Indonesia.

 

Bapak tiga anak dan telah memiliki tiga cucu ini, memang cukup aktif dalam dunia pendidikan. Dalam kurun beberapa tahun saja, ia telah menulis puluhan buku yang berorientasi pada dunia pendidikan modern. Pantaslah, kalau beberapa kalangan menjadikan ide dan pemikiran Prof, Syahrin sebagai rujukan untuk perbaikan dunia pendidikan nasional.

Baca Juga  Simple form creation and storage, built for developers.

 

Pemikiran modern Prof.Syahrin Harahap ini telah diuji dalam sebuah karya ilmiah. Ridwan Harahap, mahasiswa Fakulktas Agama Islam (FAI) Universitas Alwashliyah Medan, telah mengangkatnya sebagai judul skripsi. Dan pada 12 Nopember 2011, ia dinyatakan lulus dengan nilai A, dalam sidang munaqosyah.

 

Berdasarkan penelitian Ridwan, Syahrin termasuk tokoh yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Sebab ada beberapa aspek dari pendidikan yang perlu dimodernisasi demi kemajuan dan relevansinya di zaman modern.

 

Aspek landasan filosofinya, dimana pendidikan ke depan dijalankan pada falsafah rational- theocentric.Syahrin menekankan agar umat Islam lebih obyektif dalam memandang Barat. Sebab, Barat itu tidaklah selamanya jahat dan jelek. Ia  memiliki prinsip bahwa yang mesti diadopsi oleh umat Islam saat ini adalah peradaban Baratnya (hadharah, civilization) yang bersifat global dan universal. Bukan kebudayaan mereka (saqafah, culture) yang bersifat lokal dan sering kali jelek, jahat, kejam dan menyebalkan.

 

Prof Dr Syahrin Harahap MA menekankan pemahaman bahwa satu-satunya sumber ilmu pengetahuan bagi manusia adalah Allah SWT. Pandangan ini dianggap penting sebagai antisipasi terhadap munculnya sikap antroposentrik dan bahkan terpisahnya seorang penuntut ilmu (anak didik) dari fitrah dan bahkan dari Tuhannya,

 

Disamping itu, , Syahrin menekankan agar semua ilmu yang ada di jagad raya harus dipandang sebagai milik Allah. Kesimpulan lain yang dikemukakan Ridwan bahwa Syahrin menekankan perlunya optimalisasi fungsi akal dan kalbu secara seimbang. Namun, agar tidak terjadi kebablasan dalam penggunaan akal (berpikir) perlu diseimbangkan dengan pendayagunaan hati (perasaan) sekaligus.

 

Syahrin menggariskan guru harus senantiasa akrab dengan informasi media yang aktual, guru harus mampu memahami lapangan kerja dan senantiasa memotivasi siswanya untuk berwirausaha, guru harus senantiasa menjalin kerjasama dengan orang tua siswa demi keberhasilan proses belajar mengajar, guru harus mampu bertanggung jawab dan mengarahkan pendidikan pada penegakan dasar moral keagamaan, sehingga anak didik mampu membedakan antara yang baik dan jahat.

Baca Juga  Apresiasi Tindakan Tegas Kapolda Sumut, Jalankan Perintah Kapolri Terhadap 28 Anggota Yang Melakukan Pelanggaran Dalam Bertugas

 

Guru harus mengubah pola hubungannya dengan murid, yaitu hubungan yang berdasarkan hati nurani, bukan berdasarkan materi semata. Menurut Syahrin juga perlu dilakukan integrasi ilmu pada setiap kurikulum pendidikan, dimana ia harus mencerminkan keterpaduan antara ilmu-ilmu umum dan agama. Sebab, semua ilmu itu pada hakikatnya sama, yaitu ilmu Islam, yang bersumber dari Allah dan keduanya sama cepatnya mengantarkan manusia kepada kemajuan.

 

Kehebatan Prof. Syahrin dalam bidang keilmuan ini memang tak perlu diragukan. Ia sangat layak menyandang gelar “Tuan Guru”. Tak hanya kalangan intelektual yang menjadikannya sebagai rujukan. Tapi, di tingkat desa pun, Prof. Syahrin menjadi sandaran. Ini terlihat ketika Prof. Syahrin mengunjungi desa Garoga, Padang Lawas Utara (Paluta) pada 13 Maret 2021 lalu.. Kepala Desa Garoga, Barani Harahap, berkeluh kesah menyampaikan persoalan pendidikan di desa terdsebut kepada Syahrin.

Syahrin, “pendekar” keilmuan yang lahir di desa Tano Hasorangan, Garoga, Paluta itu, menyambut positif apa yang menjadi kegelisahan kepala desa. Syahrin pun membedah persoalan actual serta pemberdayaan masyarakat desa melalui berbagai aspek, yang ujungnya adalah untuk kemajuan masyarakat desa. (Bersambung). Tar

Tinggalkan Balasan