wartaindonesiaonline.com – LabuhanBatu, Ketua panti Asuhan AL-ARIF berinisial IS menganggap Kekerasan terhadap anak yang terjadi di panti Asuhan AL-ARIF, adalah hal biasa, kalimat tersebut di lontarkan nya kepada beberapa pengurus DPC PWRI Labuhanbatu dan salah satunya sekretaris PWRI Labuhanbatu di salah satu warung kopi ( warkop) yang berlokasi di jalan SM raja, kelurahan Bakaran Batu, Kabupaten Labuhanbatu, sumatera utara, senin, (22/11/2021).
Berdasarkan keterangan IS , kekerasan terhadap anak anak tersebut adalah suatu kewajaran untuk mendidik mereka agar lebih patuh dan taat terhadap pengurus panti asuhan AL-ARIF, tindakan yang di lakukan oleh ZW, selaku pengasuh sepertinya di dukung dan di ketahui sama beliau ( IS-red), sampai sampai anak anak yang di pukul mengalami trauma/ takut serta tidak berani untuk kembali ke panti lagi, pimpinan panti Asuhan Al Arif dengan inisial IS mengatakan “Bila ada anak yg bandal atau susah di atur GIMBAL saja” kepada pengasuh ZW yg merupakan pengasuh tetap di panti.

Dugaan pemukulan menggunakan kayu rotan yang di lakukan oleh ZW sudah bersifat tempramen bukan mendidik, sudah melampaui batas dengan beberapa foto bekas pukulan yang di perlihatkan oleh Nara sumber terlihat bekas pukulan tersebut, tidak hanya di kaki saja, tetapi sampai ke pinggang serta ke leher/ pundak.

Pengasuh ZW akan menghukum anak panti bila ada kesalahan seperti tidak bisa memberi hafalan, terlambat sholat berjamaah, terlambat tugas sehari-hari (menyapu dll).
ZW akan memberi hukuman yg diantaranya anak akan dikurung dikamar mesin dengan mematikan lampu selama lebih kurang 5 jam, menyiram dengan air kotoran (septic tank), bahkan ZW menyuruh anak lainjya meludahi anak yg melakukan kesalahan. Kejadian ini akan selalu dilakukan ZW bila ada anak yg melakukan kesalahan dimulai dari bangun pagi(subuh) hingga tidur malam. Anak panti yg mendapat kekerasan tersebut, tidak berani melaporkan ZW dikarenakan takut di keluarkan dari panti asuhan Al Arif.
“Anak anak itu di pukul pasti ada sebabnya, itu hal biasa dengan tujuan agar mereka patuh terhadap peraturan yang ada di panti asuhan ini, tapi kalau dikaitkan dengan HAM memang ini salah kita” ujar IS.

Baca Juga  Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Mengapresiasi Penyematan Nama RSUD Deli Serdang (Drs. H. Ashari Tambunan))

Lanjut IS, kalaupun  nanti kalian laporkan, ibarat pepatah ‘menang jadi arang kalah jadi abunya itu, ” Cetus IS.

Saat di singgung tentang pertanggung jawaban dari ZW yang di duga melakukan kekerasan yang berlebihan terhadap anak anak tersebut, IS mengatakan kalau masalah itu nanti akan bermuara ke beliau juga nanti ujung ujung nya.
Secara terpisah menurut Eka Januarsyah selaku sekretaris DPC PWRI Labuhanbatu mengungkapkan bahwa “setiap kekerasan yg di terima anak anak pasti akan merusak psikologis anak tersebut” selanjutnya dikatakan beliau yg merupakan alumni psikologi di salah satu universitas swasta Medan bahwa tidak menutup kemungkinan anak tersebut akan melakukan hal yg dialami anak tersebut kepada yg lain di kemudian hari karena kejadian itu sudah tersimpan dalam memori jangka panjang (Long Term Memory) sehingga hal ini harus di hindari dan anak tersebut baiknya di beri bimbingan konseling utk menghilangkan trauma yg di alami”.

Publisher   : admin.wartaindonesiaonline.com
Red by      : HR

Tinggalkan Balasan